Adu domba, pecah belah, divide et impera tidak cuma terjadi di zaman
Belanda. Hari ini pun masih sering terjadi. Rakyat di adu, supaya sibuk
sendiri, sementara para penguasa menikmati berbagai hasilnya.
Dulu jaman SD, saya memahami taktik ini sebagai : mengadudomba calon mangsa agar lemah dan tidak kompak, lalu Belanda datang sebagai musuh dari
semuanya dan dengan mudah mengalahkan domba-domba dungu yang lelah
saling bertempur itu. Ternyata kini prakteknya jauh lebih lebih kompleks. Yang melakukan
pun bukan kompeni “dari luar sana”, tapi justru oleh para pimpinan dan
pemuka kita sendiri.
Jika ada
“musuh bersama”, maka sang indoktrinator bisa memposisikan diri sebagai
“pelindung” atau “pembela umat” dari ancaman musuh. Dengan begitu umat
jadi lebih mudah diatur dan dipengaruhi. Itulah makanya banyak pemimpin yang menyukai taktik ini.
Atau jika umat mulai tidak setia, tidak patuh, dan terancam bubar,
maka