Tentu tidak setiap indoktrinasi dilatarbelakangi niat jahat dan
tidak setiap indoktrinasi berakibat sangat buruk. Akan tetapi yang
namanya indoktrinasi hanya sukses disebut indoktrinasi jika dan hanya
jika berhasil "melumpuhkan" sesuatu yang membedakan manusia dari
binatang jalang: Kemampuan bertanya, mengkritisi dan menguji.
Nah, korban yang sudah dibiasakan untuk tidak berpikir kritis memungkinkan sang indoktrinator untuk bebas
memperbudak pikiran dan memanipulasi korban sesuai keinginan mereka. Mengubah manusia dari mahluk berpikir menjadi domba-domba yang patuh
secara membabibuta.
Keluguan kronis itu menjelaskan mengapa banyak dari
kita masih